Cinta Tanpa Syarat untuk Diriku

Cinta? Syarat? Mencinta tapi untuk diri sendiri? Kok bisa? Kenapa? dan untuk apa?
Duh.. Bisa tidak ya?


Cinta Tanpa Syarat untuk Diriku




Hai semuanya... Balik lagi nih di blognya wmmoon.blogspot.com

Dalam situasi pandemi corona ini kegiatan apa saja yang biasa kalian lakukan?
Bekerja secara work from home? Pasti memunculkan rasa malas yang berlebih karena minimnya kegiatan. Bahkan bertemu dengan teman selain keluarga kita saja sulit, tidak bisa peluk rindu jarak dekat karena adanya aturan social distancing.

Sudah jangan terlalu bersedih. Kalian bisa memanfaatkan waktu dengan membaca blogku hehe. Membaca bisa melatih fokus ketajaman mata kalian, memperbanyak kosakata dan banyak lagi. Karena membaca adalah jendela dunia.

Kali ini aku sedang mengikuti lomba blog #SatuPersenBlogCompetition dari instagram @satupersenofficial temanya juga menarik loh "Cinta Tanpa Syarat untuk Diriku" relate banget pembahasannya dengan keadaan terkini yang bisa bikin kita mudah insecure.

Yuk, kita mulai dari hal paling mendasar seperti pemahaman!

Cinta itu ibarat rasa yang menggerakan seseorang untuk bisa melakukan sesuatu atas apa yang ia sukai dan kurang lebih menginginkan apresiasi setidaknya dari orang yang ia jadikan targetnya.
Cinta juga unik karena memiliki penyampaian dengan berbagai macam love language-nya tersendiri.

Mungkin dengan adanya kata "Syarat" disini, agak ganggu ya. Umumnya yang kita tahu bahwa cinta bersyarat biasanya menjurus pada suatu istilah yang disebut toxic relationship. Bukan hanya orang yang memiliki pasangan saja loh yang bisa merasakan hal tersebut. Jomblo juga bisa. Kita hidup di lingkungan yang memiliki beberapa lapisan budaya.

Tapi bagaimana jadinya jika target dari cinta kali ini adalah dirimu sendiri? Terdengar aneh tapi berkesan. Berkembang untuk menjadi pribadi yang lebih baik juga merupakan rasa bentuk cinta kita terhadap diri kita sendiri. Tapi pertanyaannya adalah cinta tanpa syarat itu seperti apa sih?

Sebagai manusia kita tidak terlepas dari kegiatan bersosialisasi. Dampak sosialisasi juga yang secara tidak langsung menanamkan mindset di ruang publik bahwa orang yang sukses itu pasti rata-rata berasal dari kalangan yang elit. Jika ada orang yang membantah perspektif itu, besar kemungkinan menjadi bahan ejekan atau cemoohan.

Pernah tidak kalian berpikir bahwa menjadi seseorang yang layak diterima di ruang publik itu perlu serangkaian prosedur yang harus dipenuhi? Semisal kita perlu banyak teman dulu baru kita bisa dianggap kehadirannya, penampilan yang harus kelihatan oke agar kita tidak dimasukkan ke dalam kategori manusia yang lemah finansial dan banyak lagi.

Semua hal yang menurut mereka sempurna di atas, itu sebenarnya adalah usaha yang percuma meskipun sebenarnya kita hidup perlu memilliki beberapa syarat dan tingkatan agar bisa terus memberikan challenge motivation self. Kenapa? Karena kamu hanya memperdulikan apa yang orang katakan padamu bukan memperdulikan apa yang sebenarnya kamu butuhkan. Itu sangat menyiksa. Hidup itu perlu konsep IKIGAI diambil dari bahasa Jepang (alasan untuk hidup) yang bisa menjawab pertanyaanmu mengapa kamu bisa melangkah sampai sejauh ini. Konsep ini menekankan pada 4 konsep refleksi diri, terdiri dari :

1. Apakah kamu sudah mengerjakan hal yang kamu suka dan cintai?
2. Apakah kamu sudah mengerjakan hal yang kamu kuasai?
3. Apakah kamu sudah mengerjakan hal yang bermanfaat bagi banyak orang?
4. Apakah kamu sudah mengerjakan hal dengan bayaran yang sesuai?

Kira-kira bagaimana agar kita bisa menjalankan setidaknya salah satu dari konsep tersebut? Aku di sini akan sedikit bercerita mengenai pengalaman pribadi. Simak ya!

Pada saat aku dijenjang SMP, temanku yang benar-benar bisa dijadikan sahabat karib, hanya terhitung jari. Banyak hal yang membuatku overthinnking karena kemampuanku dalam bersosialisasi bisa dikatakan cukup payah saat itu. Bahkan, keberanian untuk berbicara di grup medsos dan bertanya langsung pada teman sekelas tentang PR aku tidak bisa. Rasanya susah, gugup, jantung pun berdetak kencang seperti habis lari maraton.

Tapi saat aku berada ditingkat SMK juga usia yang memasuki remaja dewasa, aku tidak ingin diriku berhenti di titik yang sama. Aku ingin bisa menjadi orang yang menginspirasi, aku menyayangi diriku dan aku ingin bisa menjangkau relasi lebih banyak lagi.

Saat aku mulai menjajal kemampuan diri dengan bergabung menjadi anggota pengurus OSIS, aku meyakinkan diri bahwa aku melakukan ini tanpa keterpaksaan dari siapapun dan aku pasti bisa. Walaupun dulu saat SMP aku pernah mengikuti kegiatan keanggotaan PRAMUKA dengan tidak sempurna. Aku mengundurkan diri dengan cara seleksi alam (Tidak pernah menghadiri kegiatan dan latihannya lagi).

Aku mengundurkan diri dengan cara itu karena aku takut tidak memiliki teman di dalamnya. Kebanyakan teman yang ikut dalam kegiatan PRAMUKA dan dekat denganku mereka memutuskan untuk tidak melanjutkannya lagi. Aku cemas dan aku terkalahkan oleh pola pikir negatif diri sendiri. Aku juga saat itu kurang bisa membedakan karakter introvert dengan karakter orang yang kurang percaya diri. Padahal, kedua hal itu adalah hal yang sangat berbeda.

Berkat ambisiku dalam menantang diri sendiri akhirnya aku berhasil mendapatkan relasi yang cukup banyak saat di sekolah. Tentu saja dengan pengalaman sebagai panitia/Event Organizer yang tidak terlupakan. Berikut beberapa potretku dengan teman-teman satu organisasi saat di SMK.



Beberapa temanku yang saat itu sempat satu SMP denganku ada yang pernah bertanya dan terheran-heran, ternyata aku bisa keluar dari zona nyamanku selama ini. Tentu aku menjelaskan pada mereka bahwa aku tidak ingin memiliki gangguan bipolar. Aku ingin menjadi orang yang berbeda dari sebelumnya, menjadi orang yang lebih aktif.

Karena aku sudah berhasil dalam menantang diri sendiri, aku jadi tidak merasa kesepian lagi. Saat di dunia kerja aku mampu memiliki tambahan beberapa relasi lagi dan tahu apa saja etika yang perlu ditunjukkan kepada sesama rekan kerja, atasan maupun bawahan misalnya.

Jadi Cinta Tanpa Syarat untuk Diri sendiri itu..
Kenapa sih diperlukan dan untuk apa?

Perlu banget. Penting banget. Untuk menunjukkan tingkat rasa kepercayaaan terhadap diri sendiri. Jika kita tidak bisa mempercayai diri sendiri bagaimana bisa kita percaya pada orang lain?

Hal yang perlu di garis bawahi adalah ekspresikan dirimu tanpa membebankan syarat-syarat yang orang lain anut dan syarat pribadi yang memberatkan dirimu. Contohnya kamu memiliki tujuan A kamu harus bisa menggapai A itu dengan cara apapun. Bumi terus berputar dan waktu tak pernah meminta izinmu, jadilah tipe orang yang se-fleksibel mungkin.

Karena menurutku orang yang sukses itu adalah orang yang mampu mencintai dirinya sendiri, orang yang mengenali dirinya dan bukan menjadi orang lain. Kalian pasti tidak maukan memiliki gejala gangguan depresi mayor? Mari mulai sekarang jadikan sugesti negatif sebagai bahan bakar motivasi juga evaluasi diri.

Kita juga tidak bisa terlepas dari hal-hal negatif. Setiap dari kita juga punya peluang untuk menyakiti orang lain secara tidak sengaja. Maka dari itu, jika kita tidak suka terhadap sesuatu lebih baik kita mengkritisinya dengan cara yang lebih elegan lagi. Seperti mengajak orang tersebut untuk berdiskusi. Tanyakan apa yang membuatnya mampu bertindak seperti itu.

Bukankah memiliki tempat berbagi itu adalah hal yang sangat menyenangkan? Mampu membawa kita pada sudut pandang yang baru dan open minded tentunya. Dulu, guruku di sekolah sempat mengajarkan tentang penanaman karakter dimana kita bisa menjadi apapun yang kita inginkan dan kita sukai dengan cara ATM (Amati, Tiru dan Modifikasi).

Setiap orang pasti memiliki strategic plan dalam menentukan pilihan, kadang aku juga sering cemas dengan apa yang sudah ku tentukan. Tapi aku pernah belajar mengenai beberapa aliran filsafat di channel youtubenya satu persen salah satunya adalah Filosofi Stoicism. Filosofi ini mengajarkan kita untuk tidak menolak sifat pesimis dan mengandalkan logika bahwa semua kemungkinan bisa saja terjadi. Setiap permasalahan pasti ada solusinya. Fokuslah pada prosesnya jangan hanya pada hasilnya. Ini akan membuat dirimu lebih berharga dari sebelumnya.

Akhir pesan dari blogku kali ini,

Jadikan semua hambatan sebagai sebuah kesempatan. Kita tidak tahu jalan mana yang bisa menuntun kita kepada hal yang baik. Jangan pernah ragu dan malu saat mencoba. Jika kita tidak mencoba, kita tidak akan pernah tahu batasan-batasan mana yang sebenarnya masih bisa kita lampaui. Beban dalam tujuan akan menghambat keberhasilanmu. Lakukan hal yang kamu suka dan kamu kuasai. Terima kenyataan bahwa beberapa hal memang tidak dapat dipaksakan.

Ada tanggapan lain mengenai tulisan ini? Silakan berkomentar pada bio di blogku ini ya! :D
Mohon maaf apabila terdapat kalimat-kalimat yang kurang berkenan. Semoga bermanfaat.

Mohon bantuan dan dukungannya juga karena ini merupakan lomba pertama yang aku ikuti. Semoga hasilnya memuaskan, dukungan dari kalian sangat berharga bagiku.

Terima kasih telah berminat berkunjung dan membaca blogku kali ini.
Sampai jumpa di kesempatan berikutnya..










Komentar

M Sadam Husen mengatakan…
Sumpah saya sangat termotivasi dengan blog my April. Semoga sukses terus yah. Terima kasih cerita nya
M Sadam Husen mengatakan…
Sangatlah luar biasa
wmmoon.blogspot.com mengatakan…
Terima kasih atas tanggapannya, sangat memotivasiku dalam menulis di kesempatan berikutnya. Ada sedikit salah penulisan nama blognya "write your mind", typo ya hehe mungkin maksudnya "blog April bukan blog my April", Semoga kamu juga semakin dipermudah dalam menginspirasi ya!