Mencari kesempatan dalam kesempitan!

Hallo.. Apa kabar semuanya?

Di usia 22 tahun ini aku mau sedikit berbagi pengalaman kepada kalian terkait memanfaatkan waktu sebaik mungkin disetiap harinya. Semoga pengalaman ini dapat menginspirasi untuk kalian yang sedang malas melakukan aktivitas atau bahkan sudah mulai putus asa dalam mengarungi dunia pekerjaan.
Simak terus ya :D




Bersekolah ditempat ternama dengan jurusan dan akreditasi yang baik, memiliki nilai yang stabil, bahkan ikut andil aktif dalam bidang keorganisasian sekolah, tidak menjamin kamu akan mempunyai proses yang instan dalam kesuksesan diluar dunia sekolah (kerja).

Tahun 2019, tahun dimana aku mulai meniti karirku dari 0. Masa paling tersulit dimulai disini.
Saat itu, aku masih fresh graduate, mencoba melamar dengan posisi sebagai admin. Ya. Karena jurusan yang ku ambil adalah Administrasi Perkantoran.

Aku sempat mencoba melamar sebagai admin website, aku diterima, namun jaraknya sangat jauh dan menguras biaya di transportasi, harus naik 2 kali naik angkot dan ojek pula.
Orang tuaku tidak setuju akan hal itu, karena cukup mempertaruhkan keselamatan, lingkungan perusahaannya di perumahan, sepi dan susah akses karena aku tidak dapat mengendarai motor.

Sangat disayangkan, padahal owner disana sudah suka melihat kinerjaku training selama dua hari. Pengerjaan tes matematikakupun membuatnya yakin, bahwa aku dapat menjadi admin website yang baik. Beliaupun sangat menyayangkan kepergianku. Namun, aku tidak mau membantah perintah orang tuaku.

Setelahnya..

Dari beberapa proses interview kemudian, terpanggilah namaku disalah satu perusahaan yang berbasis pendidikan. Rasanya sangat tidak karuan, senang, terharu dan berdebar dalam jiwa ini menjadi satu. Semangat kerja dan keingintahuan yang tinggi untuk dapat beradaptasi dan bergaul dilingkungan baru.

Karena ini merupakan pengalaman pertamaku bekerja, tentu gaji yang didapatpun tidak sebanyak orang-orang yang di gaji dengan keprofesionalitasan tingkat tinggi. Aku memiliki gaji di bawah UMR kota Bogor. Aku tetap menerimanya, karena aku ingin mengembangkan pengalamanku disana.

Ujian itupun dimulai, disaat aku baru satu bulan bekerja, ternyata Ibuku sakit. Bukan sekedar sakit ringan, tapi lumpuh. Ini mengejutkan. Ya, karena ini sangat mendadak. 

Aku si anak manja ini, yang terbiasa serba disediakan oleh Ibu, rasanya sangat terasa hampa jika ibu tidak dapat memberikan perhatiannya lagi padaku, bukan karena ia tak mau, tapi karena keterbatasannya. Lokasi kerjaku saat itu cukup jauh, perlu menempuh 3 kali naik angkot dalam sekali berangkat, waktu yang diperlukan menghabiskan 1,5 jam jika tidak macet. 

Istirahat makan siang, yang biasanya aku memakan bekal yang selalu disiapkan oleh ibuku, kali ini aku termenung karena hanya dapat membawa nasi. Bukan kesedihan karena lauknya yang tidak ada, tapi sedih dan terus memikirkan bagaimana kondisi Ibu ku saat ini, apakah ia baik-baik saja jika ku tinggal? 

Apakah adikku dapat membantu merawatnya dengan benar? seperti memberinya minum? Karena adikku masih SD saat itu. Tersayat rasanya saat mengetik ini, karena secara mau tidak mau, aku jadi mengenang kejadian waktu sulit itu, Alhamdulillah masa itu dapat terlewati dengan baik. 

Ibu sembuh karena mukjizat dari Allah, melalui perantara nenekku. Hanya sekedar dijenguk dan di usap pelan tangannya, ini sangatlah luar biasa! seketika tangan ibuku dapat menggenggam gelas dengan mudah, kemudian dicoba untuk merangkak, lalu berdiri, seketika kelumpuhan itu sirna.

Ujian belum selesai sampai disitu. 

Saat suasana rumah mulai tenang, pekerjaanku terpaksa harus dihentikan, karena adanya Corona Virus, Lockdown dimana mana.

Aku sempat berjualan minuman didepan rumahku, hasil penjualannya tidak begitu menjamin.

Maka dari itu aku kembali berusaha untuk mencari lowongan pekerjaan lain yang mungkin dapat aku raih dalam waktu dekat ini, setelah 2 bulan aku mendapatkan posisi sebagai admin kembali di tempat yang baru.

Masih dengan gaji dibawah UMR, setidaknya lokasi pekerjaan baruku ini dekat dengan rumah, hanya perlu 1 kali naik angkot. Tidak menjadi masalah jika aku harus sering bekerja lembur, dari mulai jam 8 pagi dan pulang jam 10 malam.

Aku ingin memiliki minimal tabungan untuk diriku sendiri, karena aku tidak mau merepotkan orang tuaku dan saudaraku nantinya.

Dipekerjaan baruku ini, aku mulai merasa tidak tenang, karena harus ada namanya tombok menombok, bahkan disalahkan soal urusan penginputan, aku berusaha ingin keluar dari perusahaan kedua ini.
Tidak lama kemudian, aku dapat kabar dari perusahaan pertama tempatku bekerja, dan memberi kabar. "Mohon maaf April, untuk kelanjutan bekerja kamu disini sudah selesai".

Ini membuatku sedikit jengkel, beruntung aku sudah mendapatkan pekerjaan keduaku yang sekarang, karena kabar tersebut aku dapat setelah 8 bulan lamanya aku diabaikan dari perusahaan tersebut.

Fokus kembali pada niatanku yang ingin keluar dari tempat kedua ini.

Aku tentu tidak mau kejadian terulang kembali, ya, apa itu? Menanggur dan mencari pekerjaan.

Sebisa mungkin aku mendapatkan pekerjaan baru tanpa mengganggur sekalipun.
Dan itu terwujud. Mari kita buat perandaian, semisal hari ini adalah hari senin dan harus menyelesaikan pekerjaan sampai hari sabtu, di minggu depan hari senin berikutnya, aku sudah masuk ke perusahaan yang baru.

Bukankah terkesan seperti mudah? Tentu tidak.

Tugasku menginput data setiap harinya, dan atasanku berada tepat disebelah meja kerjaku.
Apakah kalian dapat membayangkannya?
Ini sungguh gila, karena sembari aku mengerjakan inputan, disebelah kanan komputerku, ku letakkan handphoneku sembari mengisi kuis/test untuk masuk keperusahaan lain. Saat itu aku mengerjakan soal aritmatika dan psikotest yang lain, hasilnya memuaskan. Aku lulus. 

Tapi, saat aku interview aku gagal.

Aku mengulangi hal tersebut sampai dua kali lagi, dan gagal kembali. Aku sudah sempat izin tukar shift untuk mendatangi interview di cabang berbeda, dan hasilnya nihil.

Tidak menyerah, aku mencoba ke perusahaan yang berbeda kali ini. Aku melakukan kebiasaan nekatku kembali, menyimpan hanphone disebelah komputer sembari mengerjakan test.
Cukup mengejutkan, setelah selesai tes, disaat itu juga aku ditelfon oleh perusahaan baru. Pikiranku segera untuk mencari bagaimana ini solusinya. Atasanku yang sekarang sedang masuk, bahkan tepat duduk disebelah meja kerjaku.

Akhirnya muncullah ide, "Pak, saya mau izin ke minimarket dulu untuk menukar uang ini menjadi receh" ajaibnya itu dikabulkan.

Aku berlari menuju minimarket terdekat, dan aku mencari toiletnya. Aku interview didalam toilet minimarket :D  Apakah ada hal unik yang pernah kalian lakukan seperti ku?
Selesai menutup telfon, aku berfikir lokasinya terlalu jauh jika harus ditempatkan di Jakarta Utara.
Teringat, waktuku terbatas disini, aku perlu segera menukarkan uang ini dan kembali ke kantor.

Dari semua usaha yang sudah ku lakukan tersebut, masih belum ada perusahaan yang tepat untuk aku pindah dari perkerjaan yang saat ini ku jalani di perusahaan kedua.
Akhirnya aku mendapatkan pekerjaan sampingan, masih soal menginput tapi ini part time.

Kerja pagi, pulang malam, lanjut part time.
Aku merasa seperti manusia yang paling produktif.

Setelah beberapa minggu lamanya dengan aktifitas monoton, aku bertemu dengan pelanggan yang ingin mengirimkan kamera ke Bali. 

Disinilah titik rendahku mulai naik. Pelanggan itu jadi sekontak denganku, dan beliau melihat bahwa aku memiliki ketertarikan di dunia foto. 

Akhirnya aku mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih baik, melalui pelanggan itu.
Ditempatkan di Hotel bintang lima, sebagai asisten fotografer.
Aku tidak ragu mengambil kesempatan baru, karena dengan hal baru aku dapat lebih belajar mengenal diriku sendiri.

Kesimpulan : Kemanapun kamu pergi, dimanapun kamu mencoba, sejauh mungkin kamu berkelana, rezeki setiap orang itu pasti datang diwaktu yang tepat.

Sekian ceritaku kali ini, semoga menginspirasi.
Sebutkan pesan kesan kalian saat membaca ceritaku kali ini :D



Komentar